Minggu, 30 Oktober 2016

Budaya ABS (Asal Bapak Senang)

Kebohongan (juga disebut kepalsuan) adalah jenis penipuan dalam bentuk pernyataan yang tidak benar, seringkali dengan niat lebih lanjut untuk menjaga rahasia atau reputasi, perasaan melindungi seseorang atau untuk menghindari hukuman atau tolakan untuk satu tindakan.
Diantara bentuk kebohongan yang sering terjadi di dalam masyarakat kita salah satunya adalah ABS (Asal Bapak Senang). ABS adalah kata-kata dan sikap manis yang dilakukan hanya sekadar untuk menyenangkan atasan, meskipun jauh dari kebenarannya. Kata-kata dan sikap itu hanyalah formalitas belaka.

Di indonesia, ABS merupakan masalah sosial budaya yang terbentuk sejak puluhan tahun lalu bahkan sejak jaman kerajaan. Rakyat kecil dalam banyak hal lebih banyak menunduk daripada menatap tegak lurus ke depan, terutama pada pejabat,  sehingga berjalan tidak terarah karena tidak melihat jalan di depan. Demikian sebaliknya, mereka yang sedang menjabat lebih sering melihat ke atas sehingga tidak tahu bahwa kakinya menginjak kepala orang lain.
Istilah ABS atau asal bapak senang selalu mengalami transformasi. Pada jaman Soekarno, asal bapak senang adalah nama sebuah band yang suka menghibur di istana presiden. Pada jaman Soeharto, asal bapak senang merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang yang memberikan laporan hanya untuk menyenangkan hati pimpinan walaupun tak sesuai dengan kenyataannya. Pada jaman Habibie, ABS adalah singkatan dari Asli Bugis Sulawesi. Pada jaman Megawati, ABS adalah singkatan dari Anaknya Bapak Soekarno. Terakhir jaman SBY yang sebelum pemilihan legislatif melontarkan isu adanya kampanye ABS sebagai Asal Bukan Susilo. ABS juga bermakna sebagai kepalsuan secara umum yang dilakukan untuk menyenangkan dan memeroleh simpati atau penilaian baik dari atasan. Tentu, ABS erat kaitannya dengan perilaku: menjilat atau mencari muka. 

Rabu, 19 Oktober 2016

Berhati-hatilah dari Kemunafikan dan Orang Munafik

Nifaq/Munafiq itu ada dua, ada nifaq i'tiqadi dan ada nifaq 'amali. 

Para Munafiqun adalah Orang yang tidak punya pendirian, selalu ragu-ragu dalam keyakinan, tidak mempunyai pijakan yang jelas, tidak mengetahui arah dan jalan kebenaran, selalu terombang-ambing dalam kesesatan, para pendengki dan penipu. Selalu riya’ dalam setiap amalan yang diperbuat.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَلَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan merea. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian, tidak masuk kepada golongan ini dan tidak kepada golongan itu. Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan baginya.” (An-Nisaa’ 142-143)

Ibn Juraij mengatakan, “Ucapan orang munafiq selalu berbeda dengan perbuatannya. Apa yang ia sembunyikan selalu berbeda dengan apa yang ia tampakkan. Bathinnya berbeda dengan zhahirnya dan kehadirannya berbeda dengan ketidakhadirannya. Karena itu, nifaq i’tiqadi menjadikan pelakunya kafir dan keluar dari keimanan. Kemunafiqan tipe inilah yang ada pada orang-orang munafiq di masa Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wassalam.”

Di masa perang Badr, yang agung, saat Allah subhanahuwata'ala membuktikan keagungan-Nya serta memuliakan Islam dan para pengikutnya. Di Madinah ada seorang tokoh bernama Abdullah bin Ubai bin Salul. Dia adalah salah seorang pemimpin penduduk Madinah, berasal dari suku Khazraj, dan merupakan pembesar dua kabilah di masa jahiliyah, anggota suku-suku itu, secara aklamasi berjanji mengangkatnya sebagai raja. Kemudian datanglah Islam dan merekapun memeluknya. Abdullah bin Ubai bin Salul pun masuk Islam bersama keluarganya.

Senin, 10 Oktober 2016

Uang, Pengetahuan, dan Kekuasaan di Dunia Demokrasi


"Uang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya membutuhkan uang."
Pernyataan tersebut menjadi falsafah hidup yang merasuki seluruh akivitas politisi kita. Uang tidak hanya menjadi alat tukar barang, tetapi uang juga telah mampu mengontrol totalitas kehidupan manusia dalam segala ruang. JANGAN bicara politik kalau tidak punya uang, jangan bicara menduduki jabatan struktural kalau tidak ada uang, dan jangan harap pula jadi PNS bila tidak punya uang, dan jangan mimpi menang tender kalau tidak punya uang. Di negeri ini semua diukur dengan uang. Punya uang, urusan lancar.
Uang dan kekuasaan ibarat dua mata uang, tidak terpisahkan, tetapi saling menopang satu sama lain. Politik membutuhkan uang untuk mengatrol kemenangan, sementara uang membutuhkan politik sebagai kendaraan untuk memperoleh keuntungan (more money).
Dalam bahasa berbeda, penguasa membutuhkan pengusaha dan pengusaha membutuhkan penguasa. Sinergisitas keduanya akan memunculkan kekuatan luar biasa. Dalam percaturan politik Indonesia, tren take and give antara uang dan kekuasaan atau antara penguasa dan pengusaha begitu terlihat.
Seorang yang ingin menjadi penguasa, dia harus mengeluarkan sekian trilyiun uang rupiah dari kantongnya. Dengan demikian, hanya mereka yang berduit yang dapat berkompetisi merebut kemenangan. Tanpa uang, kekuasaan hanya menjadi angan yang mengawang. Sekarang, politik dan kemenangan ditentukan oleh kuasa uang, bukan lagi milik para elite semata. Elite tanpa uang tak mampu memenangkan pertarungan. Demokrasi yang dipertontonkan saat ini berbiaya tinggi dan logikanya, hanya orang-orang yang memiliki dana besar, terutama para konglomeratlah yang bisa bermain politik atau yang berani ke gelanggang pertarungan politik. Merekalah yang kemudian menentukan bagaimana demokratisasi harus mengalir supaya keuntungan-keuntungan ekonomi-politik merembes dengan rapi. Demokrasi menjelma menjadi demokrasi oligarkis. Demokrasi yang semestinya sebagai bentuk kekuasaan “di tangan rakyat” menjelma menjadi kekuasaan “di tangan orang-orang kaya”, atau “para pemilik modal besar”.

John Nichols dan Robert W McChesney mengkritisi demokrasi yang saat ini sudah berubah menjadi “dollarocracy”. Pasalnya pada pemilu 2012 lalu di Amerika Serikat (AS) menjadi pemilu paling mahal dalam sejarah negeri yang berjuluk paman sam tersebut.Barack Obama menghabiskan biaya sekitar kurang lebih Rp. 12 terliun. Sedangkan lawannya Mitt Romney menghabiskan biaya sekitar kurang lebih Rp. 13 terliun.
Sama halnya dengan Indonesia, berapa trilyunan dana yang telah dihabiskan pada pileg dan pilpres selama ini?!. Bedanya jika di Amerika Serikat dana tersebut banyak dihabiskan untuk kampanye di media-media baik cetak atau elektronik. Di Indonesia dana tersebut justru banyak dipakai untuk membeli dan memanipulasi suara.